Saya bersama Pak Frengky |
Pagi itu saya mendapat perintah mendadak dari atasan untuk
mendampingi seorang staf Kementrian Pariwisata RI dalam rangka observasi awal potensi
wisata mangrove di sepanjang pantai Wita
Memea. Kaget bercampur senang menghampiri saat itu, sebab jujur saja saya belum
pernah mengunjungi daerah Wita Memea dan daerah-daerah lain di sekitar Teluk
Kulisusu. “Ini akan menjadi yang pertama buatku” gumamku dalam hati.
Tak butuh waktu terlalu lama untuk bersiap-siap, cukup
membawa tas dan mengenakan pakaian santai saja, lalu saya segera berangkat
menuju pelabuhan Kulisusu. Di sana tampak dua orang teman sekantor dan dua
orang operator speed yang akan kami
tumpangi sudah lama menunggu di pelabuhan. Tapi staf Kementrian Pariwisata RI yang
akrab disapa Pak Frengki (selanjutnya nama ini akan saya gunakan) dan
romobongan belum tiba di pelabuhan. Akhirnya kami harus menunggu di Dermaga
Kulisusu. Sambil menunggu saya menyempatkan diri berkenalan dengan seorang
operator Speed dan teman-teman lain
berusaha menyediakan bekal ala kadarnya dan bahan bakar (bensin). Rupanya
operator Speed itu berasal dari
Manado dan kebetulan saya pernah kuliah di Gorontalo, saya menyapa bapak itu
dengan dialek khas Sulawesi Utara.
“so barapa lama ti pak tinggal di Kulisusu?” tanyaku.
“so lama kita di sini, dari taun 1990 kita kamari”. Jawab
bapak itu.
“baru ti Pak bulum tau biar sadiki bahasa Kulisusu?”
“Sade ete”
(sedikit, bahasa Kulisusu), sambir tertawa.
Belum terlalu lama kami berbincang-bincang, Pak Frengki dan
rombongannya tiba di pelabuhan. Kami segera naik kapal dan mengambil tempat
duduk masing-masing. Dua mesing gantung 100 PK segera menyala dan Speed itu melaju dengan kecepatan
tinggi. Udara pagi di laut begitu sejuk hingga rasanya tak perlu berteduh dari
panas matahari, walau konsekuensinya muka harus pekat terbakar panas matahari,
karena saya lupa bawa topi.
Di sekitar teluk Kulisusu banyak terlihat tempat-tempat
pembudidayaan rumput laut dan yang paling memesona adalah menyaksikan kota
Ereke dari Teluk Kulisusu. Selama ini saya hanya melihat teluk Kulisusu dari
Kota Ereke, kini saya melihat Kota Ereke dari Teluk Kulisusu. Sesaat menikmati
keindahan Kota Ereke, ingatan saya tiba-tiba mengarah ke sejarah. Susanto Zuhdi
seorang guru besar sejarah di Universitas Indonesia pernah menulis bahwa pada
1790 sebuah kapal milik Belanda, Bark Noteboom terdampar di Teluk Kulisusu.
Menurut perjanjian antara VOC dan Kesultanan Buton, setiap kapal Belanda yang
mendapat kesulitan di sekita pulau-pulau yang berada dalam kekuasaan Kesultanan
Buton, maka sebisa-bisanya raja di situ harus memberikan bantuan kepada
Belanda. Alih-alih memberikan bantuan, orang Kulisusu malah merompak Kapal Bark
Noteboom milik Belanda tersebut. Akibatnya, perlawanan orang Kulisusu ini harus
dipatahkan sehingga terjadi perang antara Kesultanan Buton bersama VOC dan
rakyat Kulisusu. Hal ini dapat dilihat pada kabanti
“Kanturuna Mohelana” yang mengisahkan tentang perang di Kulisusu akibat
merompak kapal milik Belanda yang karam di Teluk Kulisusu.
Seperti ditegaskan oleh Susanto Zuhdi, Kulisusu akhirnya
dihukum dengan membayar 100 orang budak kepada VOC sebagai ganti rugi kapal
Bark Noteboom yang dirompaok orang Kulisusu. Saat ingatan sedang menerawang jauh
ke masa lalul, tiba-tiba Speed berjalan
lambat. Saya kaget, bisa saja ada kerusakan pada mesin atau ada sesuatu yang
terjadi di depan. Rupanya operator Speed sedang
menghindari karang lalu Speed kembali
berjalan normal. Tidak lama Speed kembali
berjalan lambat, ternyata di depan ada tikungan tajam yang harus dilewati untuk
masuk ke wilayah Wita Memea.
Melihat kenyataan di atas, ingatan saya kembali pada sejarah.
Orang Belanda dulu menyebut Teluk Kulisusu ini dengan sebutan dwaalbaai yang berarti “teluk yang
menyesatkan”. Hal ini dapat
dilihat dari peristiwa yang dialami oleh seorang nahkoda bernama Frans Arendsz
pada bulan November 1730 sebagaimana dikutip dan diterjemahkan oleh Zuhdi
(2010: 42) dalam (GM XII: 137):
“...dalam
pelayaran pertama kali melalui bagian karang yang tak dikenalnya di Kabaena,
perahu Arendsz terdampar dan terbakar, meskipun seluruhnya telah dipersiapkan
dengan baik. Arendsz kemudian dikirim ke Batavia dengan kapal Noordbeek dari
Ternate, tetapi di ujung selatan Kulesusu (Dwaalbaai)
mengalami musibah, semua awaknya kemudian diselamatkan oleh kapal Nederhoven.”
Dengan kondisi teluk yang beliku-liku dan banyak karang,
pantas jika teluk ini disebut “teluk menyesatkan”, apalagi bagi orang Belanda
yang masih asing dengan keadaan Teluk Kulisusu. Tapi bagi penduduk lokal, teluk
ini bukanlah “teluk menyesatkan”. Hanya tetap dianggap berbahaya saat musim
ombak antara bulan 5 sampai bulan 7. Sekalipun demikian menurut warga setempat
ada jalan potong yang cukup aman dilewati saat musim ombak.
Satu kebanggaan saya kala itu, jika sebelumnya kondisi Teluk
Kulisusu hanya say abaca di buku, kini saya sudah saksikan sendiri betapa
berliku-likunya teluk ini. Saya juga sudah menyaksikan sendiri bahwa
kapal-kapal yang masuk di Teluk Kulisusu dapat dipantau dari atas benteng
Bangkudu. Terbayang dipikiran saya bagaimana suasana bathin dan strategi perlawanan
dan perompakan kapal milik Belanda oleh orang Kulisusu saat itu yang dipantau
dari atas benteng Bangkudu. Teluk Kulisusu bukan sekadar panorama alam dan wisata mangrove, lebih dari itu, Teluk Kulisusu adalah saksi sejarah tentang kebebalan orang Kulisusu dalam melawan penjajah Belanda. Kira-kira seperti itu (BERSAMBUNG…)
0 komentar:
Posting Komentar