Buku Seni Memahami Karya F. Budi Hardiman |
Membincang hermeneutik atau “seni memahami”
akan terasa sangat janggal bila kita tidak menyinggung nama dan karya Frederich Daniel Ernst Schleiermacher
(1786–1834). Mengapa bisa? Tentu saja bukan karena tokoh ini lebih dulu mengkaji
persoalan hermeneutika. Sebelum Schleiermacher, sudah ada
pendahulu-pendahulunya yang membahas heremeneutika, seperti Friedrich Ast
(1778–1841) dan Friedrich August Wolf (1759–1824). Schleiermacher pantas dikenang
karena kemampuannya menarik keluar ilmu hermeneutik dari kungkungan disiplin
spesifik seperti kajian teologi, teks-teks kuno atau filologi menjadi kajian
hermeneutik umum. Bila dua pendahulunya, Ast dan Wolf lebih mengembangkan
heremeneutik dalam lingkup spesifik, untuk memahami teks-teks kuno saja, maka bagi
Schleiermacher, heremeneutik atau seni memahami dapat diterapkan secara lebih
luas untuk memahami segala ungkapan dalam bahasa, baik itu tuturan maupun
tulisan. Karena sumbangsih pemikirannya ini Schleiermacher dijuluki sebagai
“Bapak Hermeneutik Modern”.
Sebelum masuk terlalu jauh, saya ingin
mengatakan bahwa tulisan ini saya buat bukan karena saya ingin membenarkan atau
mau menyepakati pemikiran Schleiermacher. Ini juga bukan riview isi buku. Tulisan
ini sengaja saya buat dengan maksud untuk melatih pemahaman saya dengan menceritakan
ulang apa yang saya baca dan pahami tentang Schleiermacher dalam buku “Seni
Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida”, karya F. Budi
Hardiman. Buku ini membahas delapan pemikir hermeneutik, yakni: Schleiermacher,
Dilthey, Heidegger, Bultmann, Gadamer, Habermas, Ricoeur dan Derrida. Jika tidak
dibebani pekerjaan yang banyak, saya berencana akan mengulas delapan tokoh ini
satu persatu dalam tulisan terpisah di blog ini. Untuk mengawali langkah ini,
tulisan tentang Schleiermacher saya ketengahkan di sini.
Memahami sebagai Seni
Andi, Ratih, Rahma dan Ardi adalah suatu
kelompok pertemanan. Mereka tiap hari bertemu, jalan bersama, bercakap-cakap,
dan saling memahami satu sama lainnya. Hubungan mereka begitu akrab sehingga apa
yang disebut kesalahpahaman bukanlah persoalan yang membayangi hubungan mereka.
Tapi, pertanyaannya: “mengapa kesalahpahaman tidak terjadi di antara mereka?” Jawabannya
bukan karena keempat orang ini sangat akrab satu sama lain, melainkan karena Andi,
Ratih, Rahma dan Ardi berada pada lingkup pemahaman yang sama, simbol-simbol
bahasa yang mereka gunakan dapat dipahami bersama, sehingga proses memahami
ungkapan masing-masing menjadi tidak problematis. Namun, kondisi pemaham
bersama seperti ini bukanlah titik pijak heremeneutik Schleiermacher. Titik
pijak hermeneutik Schleiermacher justru ada pada kondisi
ketidaksepahaman dan bagaimana menjembatani ketidaksepahaman itu. Untuk itu,
dibedakan dua jenis memahami, yakni: memahami
secara spontan dan memahami dengan
upaya.
Memahami
secara spontan terjadi karena penutur dan pendengar berada dalam konteks
pemahaman yang sama, sehingga memahami menjadi tidak problematis. Oleh karena
itu, tidak dibutuhkan upaya khusus untuk memahami. Satu sama lain. Contohnya
adalah pertemanan empat orang (Ardi, Rahma, Ratih dan Andi) yang telah
diilustrasikan di atas. Sementara itu memahami
dengan upaya terjadi bila pendengar dan penutur berada dalam konteks ketidaksepahaman
sehingga memahami menjadi sangat problematis. Oleh karena itu, dibutuhkan
upaya-uapaya khusus untuk mencapai kesepahaman. Inilah yang menjadi perhatian hermeneutik
Shleiermacher di mana untuk memahami dibutuhkan upaya-upaya khusus. Misalnya ketika
kita bertemu dengan orang asing yang tidak saling mengerti bahasa, atau ketika
kita sedang memahami tulisan yang berasal dari zaman yang berbeda. Dalam hal
ini, akan ada kesenjangan makna yang muncul antara penulis dengan penafsirnya
dari zaman yang berbeda. Untuk mengatasi kesenjangan itu, Schleiermacher
mengembangkan metode hermeneutiknya yang biasa disebut sebagai hermeneutik
reproduktif. Karena melibatkan upaya yang membutuhkan kepiawaian, maka bagi
Schleiermacher, hermeneutik adalah “Kunstslehre
des Verstehens” diterjemakan dalam bahasa Indonesia sebagai “seni
memahami”.
Bila dirumuskan, setidaknya ada dua alasan
yang membuat Schleiermacher menyebut memahami itu sebagai seni, Pertama, karena pada dasarnya problem
memahami itu adalah soal ketidaksepahaman atau lebih tegas dikatakan bahwa
kesalahpahaman itu adalah suatu kepastian, maka dibutuhkan upaya-upaya yang
gigih dan rumit untuk memahami sesuatu. Kedua,
oleh karena memahami membutuhkan upaya dalam mengurai kerumitan pemahaman, maka
dibutuhkan keahlian menggunakan cara-cara tertentu untuk melakukannya. Jadi seni
di sini dimengerti sebagai sesuatu yang berkaitan dengan penerapaan keahlian dalam
mengurai kerumitan memahami. Selanjutnya, di bawah ini akan saya jelaskan
bentuk hermeneutik Schleiermacher, yakni hermeneutik reproduktif.
Hermeneutik
Reproduktif
Maksud dari hermeneutik reproduktif adalah tugas
seorang penafsir harus mampu menghadirkan kembali makna suatu teks secara
persis sama dengan makna yang dimaksud oleh penulisnya di masa lalu. Hal ini
dilakukan untuk mengatasi adanya kesenjangan makna antara penulis dan penafsir
yang berasal dari zaman yang berbeda. Untuk mereproduksi makna yang persis sama
dengan penulisnya, seorang penafsir tidak cukup menginterpretasi melalui kata
dan kalimat saja dalam sebuah tulisan, seorang penafisr harus mampu memasuki
kondisi mental penulisnya. Penafsir dalam hal ini dituntut mengalami kembali (nach-erleben) dunia mental penulisnya untuk mengungkapkan secara
persis sama dengan maksud penulis. Namun perlu ditegaskan di sini bahwa yang
dimaksud dengan dunia mental penulis oleh Schleiermacher bukanlah dunia psikis,
melainkan kondisi pikiran dan konteks budaya di mana suatu tulisan dilahirkan.
Untuk itu mencapai tujuan mereproduksi
kembali maksud yang persis sama dengan penulis, Schleiermacher merumuskan dua
metode yang disebut interpretasi gramatik
yang berurusan dengan bahasa sebagai kondisi di luar diri penulis dan interpretasi psikologis yang berkaitan
dengan dunia mental atau pikiran penulis yang melahirkan tulisan-tulisannya. Kedua
bentuk interpretasi ini saling berhubungan, bahwa melalui kata-kata atau bahasa
yang digunakan penulis, seorang penafsir dapat memasuki dunia mental penulis
teks yang sedang ditafsirkannya. Demikian juga sebaliknya, melalui pemahaman
mengenai dunia mental dan konteks hidup penulis, kata-kata atau bahasa bisa
dimengerti dengan lebih baik. Atau dengan kata lain kita memahami bahasa lewat
pemakainya dan kita memahami pemakainya lewat bahasa yang dipakainya. Bagi
Schleiermacher ini harus dipahami secara bersamaan. Interpretasi gramatik dan
interpretasi psikologi harus dilakukan secara bersamaan. Inilah yang disebut
sebagai lingkaran hermeneutik (hermeneuticher Zirkel), yang intinya
keseluruhan dapat dipahami dari bagian-bagian dan sebaliknya bagian-bagian
dapat dipahami keseluruhan. Dengan
demikian, seorang penafsir memiliki tugas yang lebih rumit lagi di mana ia
harus bisa memahami kata-kata atau bahasa dan dunia mental penulisnya secara
bersamaan.
Tapi, bagaimana mungkin tugas memahami ini bisa dilakukan secara bersamaan jika untuk memahami dunia mental penulis, penafsir harus masuk melalui bahasa atau kata-kata yang digunakan penulis terlebih dahulu? Atau sebaliknya harus masuk terlebih dahulu lewat memahami penulis untuk memahami kata-kata dalam tulisan. Bagaimana mungkin keseluruhan dapat dipahami jika untuk memahami keseluruhan kita harus terlebih dahulu memahami bagian-bagian, dan untuk memahami bagian-bagain harus terlebih dahulu memahami keseluruhan? Ini menjadi masalah penting dalam seni memahami ala Schleiermacher. Untuk mengatasinya, Schchleiermacher menegaskan bahwa ada kekuatan dalam otak kita yang memampukan kita melakukan lompatan ke dalam lingkaran heremeneutik di mana bagian-bagian dan keseluruhan dapat dipahami secara bersamaan. Kemampuan itu disebut sebagai kemampuan “divinatoris” atau “intuitif”. Oleh karena itu Schleiermacher merumuskan satu istilah lagi, divinatorisches Verstehen (memahami secara divinatoris), yakni memahami teks dengan mengambilalih posisi orang lain (penulis teks yang sedang ditafsirkan) agar dapat menangkap kepribadiannya secara langsung. Hal ini disebut pula memahami sebagai “empati psikologis”.
Memahami Melampaui
Penulis
Ada pernyataan terkenal dari Schleiermacher
yang kerap dikutip, yakni: “Memahami teks pertama-tama dan juga kemudian bahkan
lebih baik dari penulis teks itu”. Hah, bagaimana mungkin penafsir bisa
memahami teks lebih baik dari penulis teks itu. Bagaimana mungkin kita bisa
memahami tulisan Plato melebihi Plato itu sendiri. Membingungkan memang!
Untuk itu perlu ditegaskan bahwa pernyataan
Schleiermacher ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa pembaca atau
penafsir lebih benar memahami teks daripada penulisnya. Sama sekali bukan itu
maksudnya. Yang dimaksud di sini adalah karena penafsir tidak memiliki akses
langsung pada penulis, maka untuk memahami penulis, seorang penafsir harus
mencari tahu dalam literatur lain berbagai hal terkait riwayat hidup penulis
beserta konteks sosial-budaya di mana penulis itu hidup dan melahirkan
karyanya. Upaya penafsir dalam mengumpulkan informasi tentang penulis sebanyak
mungkin inilah yang mengantarkan penafsir mampu mengetahui banyak hal tentang kehidupan
penulis lebih baik dari pada penulis itu mengetahui dirinya sendiri.
Contoh yang diketengahkan oleh Budi
Hardiman adalah surat-surat Rasul Paulus kepada umat Korintus. Adalah mustahil
bagi penafsir untuk memahami teks lebih benar daripada Rasul Paulus sendiri
yang menulis surat-surat itu. Namun, untuk memahami isi surat-surat itu,
seorang penafsir harus mengetahui banyak hal tentang siapa Paulus itu beserta
segala hal yang berkaitan dengan kehidupannya. Juga penting untuk mengetahui
kondisi social-budaya umat Korintus yang menjadi tujuan surat-surat Paulus.
Dengan cara seperti itu pada akhirnya penafsir menyadari dan mengetahui banyak
hal tentang Paulus dan umat Korintus melampaui Paulus itu sendiri. Budi
Hardiman juga menegaskan bahwa banyaknya versi tafsiran atas surat-surat Paulus
itu menandakan bahwa ada banyak sisi yang tidak di sadari oleh Paulus sendiri
tetapi di sadari oleh para penafsirnya.
Untuk memperjelas hal di atas, berikut ini
akan saya jelaskan kembali dua jenis interpretasi menurut Schleiermacher, yakni
interpretasi gramatik dan interpretasi psikologis. Kita mulai dari
yang pertama, interpretasi gramatik.
Setidaknya ada dua kanon yang perlu diperhatikan di sini: Pertama, segala hal dalam sebuah tuturan yang memerlukan sebuah
penentuan yang lebih tepat hanya dapat ditentukan dari area bahasa yang sama
bagi si penulis dan pendengarnya langsung. Maksudnya bahwa untuk mempertegas
makna suatu kata, kita harus merujuk pada makna kata yang dipahami oleh penulis
dan pembaca pada waktu karya itu ditulis. Maka problem yang muncul di sini
adalah kesenjangan waktu antara penulis dan penafsir. Kesenjangan waktu ini
sangat memungkinkan suatu kata akan mengalami perubahan makna (perubahan makna
dalam waktu). Contoh, kata Latin hotis yang
berarti “orang asing” tetapi sebelumnya arti kata hotis ini adalah “musuh”. Oleh sebab itu, seorang penafsir harus menjangkau
makna asli kata-kata sebelum mengalami perubahan dalam waktu, yakni makna
sebagaimana dipahami oleh penulis dan pembaca awalnya.
Kanon kedua:
makna tiap kata sebuah kalimat harus ditentukan dengan konteks kata itu
berasal. Maksudnya, jika pada kanon pertama mewajibkan penafsir untuk
menjangkau makna asli sebelum sebuah kata mengalami perubahan makna dalam
waktu, maka pada kanon kedua ini penafsir diwajibkan untuk memahami dalam
konteks apa kata itu digunakan oleh penulis. Sebuah kata dapat memiliki banyak
arti, sehingga penafsir menjadi kesulitan untuk menegaskan makna apa yang
dimaksud oleh penulis. Menurut Schleiermacher, kita tidak dapat sepenuhnya
menjelaskan arti suatu kata sebagaimana dipakai oleh penulisnya di masa lalu.
Tapi, meskipun demikian adanya, penafsir dapat menelusuri lingkup hidup penulis
untuk menjangkau apa maksud penulis mengutarakan kata-kata itu. Dalam konteks
inilah penafsir pada akhirnya dapat mengetahui banyak hal yang tidak diketahui
oleh penulisnya.
Selanjutnya adalah interpretasi psikologis. Dalam jenis interpretasi ini penafsir
dituntut untuk keluar dari teks untuk menjangkau atau mengambil alih posisi
penulis. Pada tahap ini penafsir dituntut untuk menjadi subjektif sekaligus
objektif. Maksudnya, penafsir harus subjektif ketika menangkap pribadi khas
penulis dan harus objektif saat menangkap situasi lingkungan dan kondisi zaman
di luar diri penulis termasuk lingkup bahasa atau gramatik. Untuk itu, perlu
ditegaskan bahwa penafsir mustahil dapat mengetahui penulis tanpa diterangi
oleh pemahaman atas seluruh kehidupan dan zaman di mana penulis itu hidup.
Penjelasan di atas menunjukan cara kerja
interpretasi gramatik yang tidak dapat dipisahkan dari interpretasi psikologis.
Keduanya saling berkaitan satu sama lain yang membentuk lingkaran hermeneutik seperti
sudah dijelaskan sebelumnya. Bahwa mustahil untuk mengetahui penulis tanpa
mengetahui kata-kata yang digunakannya, sebaliknya mustahil memahami
kata-katanya tanpa memahami penulisnya secara utuh. Semuanya harus dipahami
secara bersamaan dengan menggunakan kekuatan memahami secara divinatoris atau secara
intuitif.
Dari penjelasan di atas yang terpenting di
sini adalah memahami bahwa hermeneutik atau seni memahami ala Schleiermacher
menerangkan dengan jelas bahwa untuk memahami teks penafsir tidak harus
memusatkan diri pada logika internal teks semata, melainkan harus keluar dari
logika teks untuk menemukan konteks penciptanya atau konteks kehidupan yang
menghasilkan teks itu. Oleh karena itu, hermeneutik Schleiermacher disebut
melampaui literalisme, atau melampaui teks.
Papua,
31 Januari 2016
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus