Minggu, 12 Maret 2017

Berkunjung ke Daerah-Daerah Sekitar Teluk Kulisusu (Bagian I)

Saya bersama Pak Frengky

Pagi itu saya mendapat perintah mendadak dari atasan untuk mendampingi seorang staf Kementrian Pariwisata RI dalam rangka observasi awal potensi wisata mangrove di sepanjang pantai Wita Memea. Kaget bercampur senang menghampiri saat itu, sebab jujur saja saya belum pernah mengunjungi daerah Wita Memea dan daerah-daerah lain di sekitar Teluk Kulisusu. “Ini akan menjadi yang pertama buatku” gumamku dalam hati.

Tak butuh waktu terlalu lama untuk bersiap-siap, cukup membawa tas dan mengenakan pakaian santai saja, lalu saya segera berangkat menuju pelabuhan Kulisusu. Di sana tampak dua orang teman sekantor dan dua orang operator speed yang akan kami tumpangi sudah lama menunggu di pelabuhan. Tapi staf Kementrian Pariwisata RI yang akrab disapa Pak Frengki (selanjutnya nama ini akan saya gunakan) dan romobongan belum tiba di pelabuhan. Akhirnya kami harus menunggu di Dermaga Kulisusu. Sambil menunggu saya menyempatkan diri berkenalan dengan seorang operator Speed dan teman-teman lain berusaha menyediakan bekal ala kadarnya dan bahan bakar (bensin). Rupanya operator Speed itu berasal dari Manado dan kebetulan saya pernah kuliah di Gorontalo, saya menyapa bapak itu dengan dialek khas Sulawesi Utara.

“so barapa lama ti pak tinggal di Kulisusu?” tanyaku.

“so lama kita di sini, dari taun 1990 kita kamari”. Jawab bapak itu.

“baru ti Pak bulum tau biar sadiki bahasa Kulisusu?”

Sade ete” (sedikit, bahasa Kulisusu), sambir tertawa.

Belum terlalu lama kami berbincang-bincang, Pak Frengki dan rombongannya tiba di pelabuhan. Kami segera naik kapal dan mengambil tempat duduk masing-masing. Dua mesing gantung 100 PK segera menyala dan Speed itu melaju dengan kecepatan tinggi. Udara pagi di laut begitu sejuk hingga rasanya tak perlu berteduh dari panas matahari, walau konsekuensinya muka harus pekat terbakar panas matahari, karena saya lupa bawa topi.

Di sekitar teluk Kulisusu banyak terlihat tempat-tempat pembudidayaan rumput laut dan yang paling memesona adalah menyaksikan kota Ereke dari Teluk Kulisusu. Selama ini saya hanya melihat teluk Kulisusu dari Kota Ereke, kini saya melihat Kota Ereke dari Teluk Kulisusu. Sesaat menikmati keindahan Kota Ereke, ingatan saya tiba-tiba mengarah ke sejarah. Susanto Zuhdi seorang guru besar sejarah di Universitas Indonesia pernah menulis bahwa pada 1790 sebuah kapal milik Belanda, Bark Noteboom terdampar di Teluk Kulisusu. Menurut perjanjian antara VOC dan Kesultanan Buton, setiap kapal Belanda yang mendapat kesulitan di sekita pulau-pulau yang berada dalam kekuasaan Kesultanan Buton, maka sebisa-bisanya raja di situ harus memberikan bantuan kepada Belanda. Alih-alih memberikan bantuan, orang Kulisusu malah merompak Kapal Bark Noteboom milik Belanda tersebut. Akibatnya, perlawanan orang Kulisusu ini harus dipatahkan sehingga terjadi perang antara Kesultanan Buton bersama VOC dan rakyat Kulisusu. Hal ini dapat dilihat pada kabanti “Kanturuna Mohelana” yang mengisahkan tentang perang di Kulisusu akibat merompak kapal milik Belanda yang karam di Teluk Kulisusu.

Seperti ditegaskan oleh Susanto Zuhdi, Kulisusu akhirnya dihukum dengan membayar 100 orang budak kepada VOC sebagai ganti rugi kapal Bark Noteboom yang dirompaok orang Kulisusu. Saat ingatan sedang menerawang jauh ke masa lalul, tiba-tiba Speed berjalan lambat. Saya kaget, bisa saja ada kerusakan pada mesin atau ada sesuatu yang terjadi di depan. Rupanya operator Speed sedang menghindari karang lalu Speed kembali berjalan normal. Tidak lama Speed kembali berjalan lambat, ternyata di depan ada tikungan tajam yang harus dilewati untuk masuk ke wilayah Wita Memea.

Melihat kenyataan di atas, ingatan saya kembali pada sejarah. Orang Belanda dulu menyebut Teluk Kulisusu ini dengan sebutan dwaalbaai yang berarti “teluk yang menyesatkan”. Hal ini dapat dilihat dari peristiwa yang dialami oleh seorang nahkoda bernama Frans Arendsz pada bulan November 1730 sebagaimana dikutip dan diterjemahkan oleh Zuhdi (2010: 42) dalam (GM XII: 137):


“...dalam pelayaran pertama kali melalui bagian karang yang tak dikenalnya di Kabaena, perahu Arendsz terdampar dan terbakar, meskipun seluruhnya telah dipersiapkan dengan baik. Arendsz kemudian dikirim ke Batavia dengan kapal Noordbeek dari Ternate, tetapi di ujung selatan Kulesusu (Dwaalbaai) mengalami musibah, semua awaknya kemudian diselamatkan oleh kapal Nederhoven.”
   
Dengan kondisi teluk yang beliku-liku dan banyak karang, pantas jika teluk ini disebut “teluk menyesatkan”, apalagi bagi orang Belanda yang masih asing dengan keadaan Teluk Kulisusu. Tapi bagi penduduk lokal, teluk ini bukanlah “teluk menyesatkan”. Hanya tetap dianggap berbahaya saat musim ombak antara bulan 5 sampai bulan 7. Sekalipun demikian menurut warga setempat ada jalan potong yang cukup aman dilewati saat musim ombak.


Satu kebanggaan saya kala itu, jika sebelumnya kondisi Teluk Kulisusu hanya say abaca di buku, kini saya sudah saksikan sendiri betapa berliku-likunya teluk ini. Saya juga sudah menyaksikan sendiri bahwa kapal-kapal yang masuk di Teluk Kulisusu dapat dipantau dari atas benteng Bangkudu. Terbayang dipikiran saya bagaimana suasana bathin dan strategi perlawanan dan perompakan kapal milik Belanda oleh orang Kulisusu saat itu yang dipantau dari atas benteng Bangkudu. Teluk Kulisusu bukan sekadar panorama alam dan wisata mangrove, lebih dari itu, Teluk Kulisusu adalah saksi sejarah tentang kebebalan orang Kulisusu dalam melawan penjajah Belanda. Kira-kira seperti itu (BERSAMBUNG…)

0 komentar:

Poskan Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com