Selasa, 18 April 2017

Akal dan Wahyu: Antara Ibn Thufail dan Cak Nur

Ilustrasi

Manusia adalah mahluk yang percaya. Tidak ada satu keadaanpun dimana manusia berada dalam ragu-ragu yang sempurna—tanpa ada satupun yang dipercayai. Seorang peragu seperti Desacartes pun di tengah-tengah keraguaannya masih menyisakan satu yang ia percaya, bahwa dirinya sedang ragu. Berdasarkan hal itu dapat dikatakan bahwa istilah ateis tidak dapat serta merta didefinisikan sebagai keadaan tidak memiliki kepercayaan terhadap Tuhan. Justru sebaliknya, ateis adalah sebentuk kepercayaan baru. Mereka tidak percaya akan adanya Tuhan, tetapi mereka percaya pada tuhan-tuhan baru, kedigdayaan akal dan sains. Hal ini membuktikan bahwa kepercayaan adalah fitrah manusia, sebuah kecenderungan alamiah sebagai kelanjutan dari perjanjian primordial manusia dengan Tuhan-nya di alam roh seperti yang dijelaskan dalam surah al-A’raf ayat 172:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

Berdasarkan alur berpikir di atas, Ibn Thufail seorang pemikir muslim abad ke-17 menuliskan sebuah karya berjudul: “Hayy Ibn Yaqdzan”. Dalam karya tersebut Ibn Thufail menjelaskan kisah hidup Ibn Yaqdzan yang sejak kecil hidup di sebuah pulau tak berpenghuni. Di sana Yaqdzan dibesarkan oleh seekor rusa yang baru saja kehilangan anaknya. Sekalipun Ibn Yaqdzan hidup dan dibesarkan oleh alam, seiring waktu berjalan melalui pengalaman indrawinya di hadapan alam raya, melalui akalnya, dan melalui intuisinya ia mulai memahami kekuatan lain yang menguasai penciptaan alam semesta, yakni Allah. Kemudian muncul tokoh lain bernama Absal yang hendak melakukan pertapaan di pulau tempat Yaqdzan hidup. Absal adalah tokoh yang dikisahkan telah mengenal agama berdasarkan wahyu (al-Qur’an), namun memilih pengasingan diri untuk menjalankan kesalehan dan ketaqwaan. Di pulau itu Absal bertemu Ibn Yaqdzan. Tetapi karena Yaqdzan belum mengetahui bahasa manusia, maka Absal terlebih dahulu mengajarinya bahasa manusia. Setelah dapat berbahasa yang sama, Absal mengisahkan kepada Yaqdzan tentang pengetahuan-pengetahuan Qur’ani, tentang Allah, malaikat, nabi-nabi, alam ghaib, dan tentang akhirat.

Mendengar penjelasan dari Absal di atas, Yaqdzan merasa bahwa pengetahuan esoteris yang ia peroleh sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran agama yang diceritakan oleh Absal. Lalu kemudian giliran Yaqdzan yang menceritakan pengalaman esoterisnya kepada Absal, pengalaman tentang kemanunggalan dengan Allah. Mendengar kisah tentang kemanunggalan manusia dengan Allah (ma’rifatullah) dari Yaqdzan—yang hidup di pulau tak berpenghuni dan dibesarkan oleh seekor rusa—Absal merasa yakin bahwa agama Islam yang dianutnya adalah benar. Bahkan mampu dikenali oleh manusia yang hanya memakai akal dan intuisinya. Dari kisah ini, Ibn Thufail menguraikan bagaimana akal dan wahyu saling bertemu tanpa ada pertentangan satu sama lain (al-manqûl wa al-ma’qûl). Kisah berlajut. Yaqdzan kemudian mengajak Absal pergi meninggalkan pulau itu untuk mengajarkan ma’rifah hakiki kepada penghuni pulau itu (Sirajuddin Zar 2009: 211). Mereka kemudian bertemu dengan raja Salman penguasa pulau itu. Salman adalah tokoh yang dikisahkan menganut agama berdasarkan nash-nash al-Qur’an (pengetahuan eksoteris). Salman meyakini bahwa hidup di tengah-tengah masyarakat lebih utama ketimbang hidup menyepi demi untuk mencari pencerahan kalbu. 

Absal kemudian mengisahkan kepada penduduk pulau mengenai pengetahuan ma’rifat yang diperoleh Yaqdzan. Awalnya penduduk pulau amat antusias dengan kisah itu. Namun setelah Yaqdzan menjelasakan soal pengetahuan ma’rifatnya, penduduk pulau itu malah mencemohnya. Dari pengalaman itu, Yaqdzan menyimpulkan bahwa kemurnia pengetahuan ma’rifat tidak bisa dipahami oleh masyarakat awam. Hanya orang-orang khusus, terpilih, dan berilmulah yang mampu memahami kemurnia ma’rifat. Mereka (Yaqdzan dan Absal) kemudian memutuskan untuk kembali ke pulau tempat Yaqdzan hidup

Dari kisah di atas, secara sederhana Ibn Thufail ingin menjelaskan adanya kecenderungan primordial manusia (fitrah) untuk mengenali penciptanya, Allah SWT. Hanya saja, dalam kisah Ibn Yaqzan tersebut, Ibn Thufail lebih jauh menjelaskan perkara yang lebih kompleks—bukan sekadar penjelasan soal kecenderungan primordial manusia—yakni keselarasan akal dengan wahyhu (Al-Quran) dalam memahami sang Pencipta. Bagi Ibn Thufail, penerimaan agama baik melalui akal dan intuisi maupun melalui wahyu tidak bisa dipertentangkan, melainkan dapat dipadukan. Tokoh Yaqdzan mewakili kaum filsuf, raja Salman mewakili kaum tekstual yang eksoteris, sedangkan Absal adalah perpaduan keduanya.

Seturut dengan gagasan Ibn Thufail yang telah dikemukakan di atas, Nurcholis Madjid, menjelaskan secara lebih tegas. Menurut Nurcholis Madjid yang akrab disapa Cak Nur, pendekatan ke arah pengetahuan akan adanya Tuhan dapat ditempuh manusia dengan berbagai jalan, baik yang bersifat ituitif, ilmiah, historis, pengalaman (empiris) dan lain-lain. Tetapi karena kemutlakan Tuhan dan kenisbian manusia, maka manusia tidak dapat menjangkau sendiri kepada pengertian akan hakekat Tuhan yang sebenarnya—pada bagian ini, Cak Nur berbeda dengan Ibn Thufail. Untuk itu, menurut Cak Nur, demi kelengkapan kepercayaan manusia kepada Tuhan, manusia membutuhkan sesuatu yang lebih tinggi dan tidak bertentangan dengan insting dan indra. Hal yang tidak bertentangan dengan insting dan indra manusia itu menurut Nurcholis madjid adalah wahyu yang disampaikan oleh seorang rasul yang sejak kecil diberi gelar al-amin (amanah, jujur, dan dapat dipercaya) karena tidak pernah berbohong. Melalui wahyu yang tidak diragukan kebenarannya Tuhan menjelaskan dirinya sendiri demi meyempurnakan pengetahuan manusia dalam memahami kebenaran Tuhan.

0 komentar:

Poskan Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com